Minggu, 19 Oktober 2014

5 fakta pendkian lawu via candi cetho

 Gunung Lawu yang terletak di antara perbatasan dua provinsi, Jawa Tengah dan Jawa Timur, mempunyai banyak jalur pendakian.Yang paling mainstream mungkin udah pada tahu, yakni jalur Cemoro Sewu di Kabupaten Magetan, Jatim dan Jalur Cemoro Kandang di Kabupaten Karanganyar, Jateng. Namun mungkin belum banyak yang begitu familiar jika Lawu ternayata juga bisa didaki dari obyek wisata eksotis, Candi Cetho yang berdekatan dengan hijaunya hamparan kebun teh kemuning. Jalur pendakian ini lain dari yang lain karena akan mengajak kita menyusuri keindahan “surga” tersembunyi lawu yang masih menjadi misteri bagi kebanyakan pendaki. Berikut saya sajikan 5 fakta menarik dari jalur pendakian tersebut.
1). Jalur terpanjang menuju puncak Hargo Dumilah


Jika dibandingkan dengan kedua jalur pendakian lain, yaitu cemoro sewu dan cemoro kandang, jalur candi cetho akan mencatatkan rekor sebagai jalur terpanjang. Sebab menurut situs Gunung Bagging, jika dihitung jalur ini panjangnya mencapai 16 km!!. Bandingkan dengan cemoro sewu yang hanya 8 km dan cemoro kandang yang berkisar 12 km. Ini dikarenakan jalur cetho alurnya seperti memutari punggungan lawu dari arah utara terus menuju hingga sampai ke puncak. Konsekuensinya tentu saja waktu tempuh menuju puncak lebih lama dari jalur2 lainnya yang dapat mencapai 8-10 jam perjalanan. 
2). Jalur terberat

Hahaha, ini sengaja saya ungkapkan bukannya mau menakut-nakuti atau mematahkan semangat sebelum mencoba jalur ini. Namun, sangat penting bagi kita, para petualang cinta (ceileeeh :D) untuk memperoleh gambaran sedetail mungkin tentang perjalanan yang akan kita tempuh. Informasi ini akan sangat bermanfaat karena kita dapat mempersiapkan segalanya dengan lebih baik, lengkap beserta dengan risiko2nya. Memang dibanding jalur pendakian lawu lain, jalur candi cetho adalah yang paling menantang kemampuan fisik dan semangat para pendaki. Pasalnya jalur ini bisa dibilang jarang sekali memberi diskon atau bonus. Maksudnya adalah kita akan lebih sering disuguhi tanjakan2 tanpa ampun dibanding dengan jalur datar atau menurun. Hal ini dapat anda rasakan sendiri sedari pos 1 hingga pos 3. Apalagi jalur pos 3 menuju pos 4, nanjaknya brow... ajib bener. Namun setelah jalur ini akan banyak kejutan yang dapat segera menghapus rasa lelah pendaki. 
Tantangan lain yang juga tak dapat dainggap remeh adalah faktor cuaca dan suhu. Beberapa teman pendaki sempat curhat mengenai suhu gunung Lawu. Katanya suhu gunung ini merupakan salah satu yang terdingin dibanding gunung2 lain di jawa tengah. Belum lagi jika ditambah dengan faktor cuaca yang sulit diprediksi. Di tahun 2012, saya sampai pos terakhir lawu dengan kondisi cuaca cerah. Namun hanya 2 jam berselang, cuaca berubah drastis, kami serombongan dihadiahi hujan deras bak air tumpah dari langit lengkap dengan dinginnya angin yang bertiup. Untung masih diberi keselamatan, hehe. 
3). Jalur paling alami


Pernahkah mendaki dan kemudian kita agak kecewa karena jalur pendakian banyak dirusak oleh tangan2 jahil manusia. Para perusak alam yanga anehnya justru mengaku pecinta alam tapi kelakuannya mencoret2 batu seenaknya, menoreh kayu pepohonan, memetik edelweis, atau meninggalkan sampah2 bekas makanan yang berserakan. Gunung sebagai tempat yang jauh dari peradaban ternyata tak luput dari ulah tak bertangungjawab manusia.
Untungnya hal-hal negatif ini tidak menular ke jalur lawu via candi cetho. Jangan sampai deh. Dari pengamatan saya, jalur ini dapat dikatakan jalur yang paling alami. Mungkin karena relatif jarang dilalui para pendaki Lawu. Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita juga agar ketika melewati jalur ini kita turut menjaganya yaitu dengan menjadi pendaki yang beradab dan beretika. 
4) Jalur yang paling komplet pemandangannya


Semenjak dari basecamp kita telah disambut oleh bangunan bersejarah candi cetho yang terkesan mistis namun eksotis. Sebelum naik, sempatkanlah mampir sejenak ke candinya. Menanjak sedikit kita akan bertemu dengan peninggalan lain, yaitu candi recho ketek. Terus naik mulailah kita merasakan atmosfir hutan yang rimbun nan asri. Dilanjutkan dengan hutan cemara dan pinus, namun sayang beberapa bagiannya tak utuh lagi karena terbakar. Tidak cukup sampai di situ, jauh di depan masih menunggu panorama-panorama lain, padang sabana, lembah putus cinta, sabana lagi, telaga menjangan, pasar setan (hiii sereeem), barulah ditutup dengan puncak hargo dumilah. 
5) Jalur yang paling berkesan

Poin ini sebenarnya bisa sangat subyektif dan tendensius haha. Namun harus saya akui, memang pendakian lawu via candi cetho banyak meninggalkan kesan mendalam bagi diri saya. Satu hal yang membuat saya kagum adalah panoramanya yang begitu lengkap dan seakan sempurna. Khususnya ketika kita berada di padang sabananya yang hijau terhampar luas beratapkan langit membiru. Ah rasanya seperti berada di negeri antah berantah, kata salah seorang teman saya. Ditambah lagi dengan kesunyian yang akan menjadi atmosfer ketika menyusuri jalur ini.

Mbok Yem dan pendaki. Semoga tansah sehat dan panjang umur nggih Mbok :)
By the way, belum lengkap ke Lawu kalo belum ngicipin nasi pecel koretan ala Mbok Yem, yang meski agak ketus tapi selalu dirindukan oleh para pendaki Lawu. Pokoknya sampe sekarang kamu masih yang paling berkesan, lawu candi cetho...
Nggak tahu deh nanti kalau dapet kesempatan mendaki kilimanjaro, aconcagua, atau elbrus hehehe 
First thing first, hal penting yang harus dipersiapkan Kondisi fisik yang prima, peralatan pendakian yang lengkap, ijin orang tua, etika dan kesopanan sebagai tamu di alam, dan administrasi pendakian.
Selamat berpetualang :)))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar